Lights Of Heaven - AppStarting KESEHATAN

Minggu, 22 Mei 2011

Dokter Pakai iPod untuk Bantu Operasi Bedah

iPod lebih mudah digunakan dan memberikan akurasi dan presesi sama dengan komputer.

Saat dokter Arun Mullaji, ahli bedah ortopedi dari Breach Candy Hospital, Mumbai, India melakukan operasi penggantian lutut, ia menyelipkan seperangkat iPod ke mantel bedahnya. Namun, ia tidak mendengarkan musik.

“Pembedahan dengan alat bantu komputer sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Akan tetapi sistem yang digunakan cukup merepotkan proses operasi,” kata Mullaji, seperti dikutip dariHindustanTimes, 17 April 2011. “Pembedahan dengan bantuan komputer memiliki tingkat akurasi 90 sampai 95 persen, namun cara ini meningkatkan akurasi dan persisi ke level berikutnya,” ucapnya.

iPod, kata Mullaji, lebih mudah digunakan dan memberikan tingkat akurasi dan presesi yang sama dengan komputer. Saat percobaan, Mullaji melakukan pembedahan penggantian lutut terhadap Gulab Sanghvi, 75 tahun, dengan bantuan DASH Smart Instrument System.

iPod yang dikenakan dokter terhubung secara nirkabel lewat koneksi WiFi ke sebuah kamera. DASH Smart Instrument System kemudian akan memberi tahu dokter lewat layar iPod secara tepat seputar di mana dan berapa dalam pembedahan perlu dilakukan dan di mana menempatkan tulang sendi baru.

“Paramedis bisa menentukan posisi yang sejajar antara persendian dengan kaki lewat layar iPod,” kata Mullaji. “Dari penelitian diketahui bahwa saat teknologi komputer digunakan untuk membantu operasi pembedahan persendian, pasien tidak terlalu merasakan nyeri dan kehilangan darah dalam jumlah yang lebih sedikit,” ucapnya.

Saat digunakan, layar iPod menunjukkan posisi, sudut, ukuran setiap titik serta pergerakan sensor yang dihubungkan padanya. “Navigasi menggunakan iPod membantu sistem dalam memberikan posisi persendian tulang dengan titik presisi hingga 0,1 milimeter,” ucapnya.

iPod lebih mudah digunakan dan memberikan akurasi dan presesi sama dengan komputer.

Saat dokter Arun Mullaji, ahli bedah ortopedi dari Breach Candy Hospital, Mumbai, India melakukan operasi penggantian lutut, ia menyelipkan seperangkat iPod ke mantel bedahnya. Namun, ia tidak mendengarkan musik.

“Pembedahan dengan alat bantu komputer sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Akan tetapi sistem yang digunakan cukup merepotkan proses operasi,” kata Mullaji, seperti dikutip dariHindustanTimes, 17 April 2011. “Pembedahan dengan bantuan komputer memiliki tingkat akurasi 90 sampai 95 persen, namun cara ini meningkatkan akurasi dan persisi ke level berikutnya,” ucapnya.

iPod, kata Mullaji, lebih mudah digunakan dan memberikan tingkat akurasi dan presesi yang sama dengan komputer. Saat percobaan, Mullaji melakukan pembedahan penggantian lutut terhadap Gulab Sanghvi, 75 tahun, dengan bantuan DASH Smart Instrument System.

iPod yang dikenakan dokter terhubung secara nirkabel lewat koneksi WiFi ke sebuah kamera. DASH Smart Instrument System kemudian akan memberi tahu dokter lewat layar iPod secara tepat seputar di mana dan berapa dalam pembedahan perlu dilakukan dan di mana menempatkan tulang sendi baru.

“Paramedis bisa menentukan posisi yang sejajar antara persendian dengan kaki lewat layar iPod,” kata Mullaji. “Dari penelitian diketahui bahwa saat teknologi komputer digunakan untuk membantu operasi pembedahan persendian, pasien tidak terlalu merasakan nyeri dan kehilangan darah dalam jumlah yang lebih sedikit,” ucapnya.

Saat digunakan, layar iPod menunjukkan posisi, sudut, ukuran setiap titik serta pergerakan sensor yang dihubungkan padanya. “Navigasi menggunakan iPod membantu sistem dalam memberikan posisi persendian tulang dengan titik presisi hingga 0,1 milimeter,” ucapnya.

[ Read More.. ]

Jantung Stop 96 Menit, Pria Ini Tetap Hidup

Snitzer mengalami serangan jantung. Dia dianggap mati. Tapi akhirnya bisa selamat.

Howard Snitzer, 54 tahun, membuat sejarah dalam dunia kedokteran. Dia bisa bertahan hidup tanpa detak jantung selama 96 menit. The Wall Street Journal pada Selasa 17 Mei 2011, dan juga dikutip ozarksfirst.com, menuliskan peristiwa langka yang terjadi pada Januari lalu itu.

Kejadiannya, bermula saat Snitzer mengalami serangan jantung. Paramedis memasang alat pacu jantung, dan bantuan pernafasan pada Snitzer selama satu setengah jam lebih. Biasanya, seorang pasien yang kehilangan detak jantung selama 20 menit, pasti dinyatakan meninggal. Tapi hal itu rupanya tak berlaku bagi Snitzer.

Tim medis agaknya tak begitu yakin dengan tindakan mereka atas Snitzer. Mereka mencoba terus menyelamatkan nyawa lelaki itu. Lalu satu langkah terakhir dibuat, memberi kejutan ke-12 dengan alat pacu jantung.

Ajaib, jantung Snitzer kembali berdetak, dan kurang dari seminggu kemudian dia telah dikeluarkan dari perawatan intensif. Bahkan, dia tidak menderita kerusakan otak.

Mengapa tim medis itu memberi kejutan jantung?

Mereka rupanya berpegang pada data dari satu alat yang disebut capnograph. Secara normal, alat ini digunakan saat pemberian bius. Mesin itu juga mengukur jumlah CO2 yang dihembuskan pasien. Dari langkah itu, bisa ditentukan berapa jumlah oksigen dalam darah pasien. Saat jiwanya kritis itu, Snitzer rupanya masih punya banyak oksigen. Tim medis pun yakin, pertolongan harus terus diberikan kepadanya.

Pemulihan total itu telah dipublikasikan oleh Mayo Clinic yang dipertegas oleh Snitzer, sang penderita.

Seorang perawat dari Mayo Clinic, Mary Svoboda yang terbang dengan helikopter bersama Snitzer saat dibawa ke klinik tak menyangka keajaiban itu terjadi. Dia merasa aneh dengan apa yang terjadi pada Snitzer. "Snitzer pada dasarnya telah mati," kata Svoboda seperti dilansir cbsnews.com.

"Dia telah dipasang alat CPR. Jantungnya sudah tak berdegup, dia sudah tak bernafas, dan sudah tak menunjukkan tanda-tanda akan hidup." Apalagi, secara umum hanya 25 sampai 30 persen penderita jantung yang bisa bertahan hidup. Setengah dari mereka, jika selamat, bahkan mengalami penurunan fungsi otak.

Satu suntikan terakhir, satu kejutan elektronik terakhir, dan 20 pasang tangan entah bagaimana telah menyelamatkan Snitzer. Lalu, apa kata lelaki yang bekerja sebagai koki itu? Dia tentu saja gembira. "Saya akan menggemukkan orang-orang (yang telah menyelamatkannya-red) ini sampai mereka memohon ampun," kata Snitzer. Lelaki yang diduga telah meninggal itu, kini hidup. "Saya menangis," kata Snitzer.

Dia sangat berterimakasih pada tim medis yang menyelamatkan nyawanya itu. "Saya berdoa agar menemukan cara menghormati apa yang Anda semua lakukan untuk saya. Setidaknya saya akan menjalani hidup yang layak, dan sehat," kata Snitzer kepada tim medis.

Snitzer mengalami serangan jantung. Dia dianggap mati. Tapi akhirnya bisa selamat.

Howard Snitzer, 54 tahun, membuat sejarah dalam dunia kedokteran. Dia bisa bertahan hidup tanpa detak jantung selama 96 menit. The Wall Street Journal pada Selasa 17 Mei 2011, dan juga dikutip ozarksfirst.com, menuliskan peristiwa langka yang terjadi pada Januari lalu itu.

Kejadiannya, bermula saat Snitzer mengalami serangan jantung. Paramedis memasang alat pacu jantung, dan bantuan pernafasan pada Snitzer selama satu setengah jam lebih. Biasanya, seorang pasien yang kehilangan detak jantung selama 20 menit, pasti dinyatakan meninggal. Tapi hal itu rupanya tak berlaku bagi Snitzer.

Tim medis agaknya tak begitu yakin dengan tindakan mereka atas Snitzer. Mereka mencoba terus menyelamatkan nyawa lelaki itu. Lalu satu langkah terakhir dibuat, memberi kejutan ke-12 dengan alat pacu jantung.

Ajaib, jantung Snitzer kembali berdetak, dan kurang dari seminggu kemudian dia telah dikeluarkan dari perawatan intensif. Bahkan, dia tidak menderita kerusakan otak.

Mengapa tim medis itu memberi kejutan jantung?

Mereka rupanya berpegang pada data dari satu alat yang disebut capnograph. Secara normal, alat ini digunakan saat pemberian bius. Mesin itu juga mengukur jumlah CO2 yang dihembuskan pasien. Dari langkah itu, bisa ditentukan berapa jumlah oksigen dalam darah pasien. Saat jiwanya kritis itu, Snitzer rupanya masih punya banyak oksigen. Tim medis pun yakin, pertolongan harus terus diberikan kepadanya.

Pemulihan total itu telah dipublikasikan oleh Mayo Clinic yang dipertegas oleh Snitzer, sang penderita.

Seorang perawat dari Mayo Clinic, Mary Svoboda yang terbang dengan helikopter bersama Snitzer saat dibawa ke klinik tak menyangka keajaiban itu terjadi. Dia merasa aneh dengan apa yang terjadi pada Snitzer. "Snitzer pada dasarnya telah mati," kata Svoboda seperti dilansir cbsnews.com.

"Dia telah dipasang alat CPR. Jantungnya sudah tak berdegup, dia sudah tak bernafas, dan sudah tak menunjukkan tanda-tanda akan hidup." Apalagi, secara umum hanya 25 sampai 30 persen penderita jantung yang bisa bertahan hidup. Setengah dari mereka, jika selamat, bahkan mengalami penurunan fungsi otak.

Satu suntikan terakhir, satu kejutan elektronik terakhir, dan 20 pasang tangan entah bagaimana telah menyelamatkan Snitzer. Lalu, apa kata lelaki yang bekerja sebagai koki itu? Dia tentu saja gembira. "Saya akan menggemukkan orang-orang (yang telah menyelamatkannya-red) ini sampai mereka memohon ampun," kata Snitzer. Lelaki yang diduga telah meninggal itu, kini hidup. "Saya menangis," kata Snitzer.

Dia sangat berterimakasih pada tim medis yang menyelamatkan nyawanya itu. "Saya berdoa agar menemukan cara menghormati apa yang Anda semua lakukan untuk saya. Setidaknya saya akan menjalani hidup yang layak, dan sehat," kata Snitzer kepada tim medis.

[ Read More.. ]

15% Stroke Terjadi Saat Tidur

Pasien perlu mendapatkan perawatan beberapa jam pertama setelah serangan stroke terjadi.

Peneliti dari University of Cincinnati mengungkapkan statistik yang cukup mengkhawatirkan. Menurut data yang dikumpulkan, hampir 15 persen serangan stroke terjadi saat penderita sedang tertidur. Akibatnya, risiko mengalami kerusakan otak semakin besar karena pasien tidak bisa mendapatkan perawatan yang tepat dalam waktu cepat.

Seperti diketahui, dokter biasanya memberikan perawatan yang disebut sebagai tissue palsminogen activator, atau tPA bagi pasien penderita stroke, pada beberapa jam pertama setelah serangan. Akan tetapi, jika perawatan dilakukan lebih lambat, maka potensi terjadinya berbagai komplikasi pada pasien semakin besar.

Peneliti melakukan pengamatan terhadap lebih dari 1.850 pasien berusia 18 tahun ke atas di kawasan Cincinnati dan Northern Kentucky, Amerika Serikat. Dari pengamatan, terungkap bahwa 273 pasien mengalami stroke saat mereka tertidur.

“Meski sangat sulit untuk mengetahui secara persis kapan serangan stroke terjadi, memanggil tenaga medis untuk pertolongan darurat sangatlah penting,” kata Ausim Azizi, peneliti dari Temple University School of Medicine, seperti dikutip dari MedIndia, 14 Mei 2011.

Apapun yang terjadi, hal yang paling baik untuk dilakukan adalah pergi ke rumah sakit. “Saat ini ada teknologi pencitraan yang bisa digunakan untuk menunjukkan apakah ada jaringan otak yang tidak mati total dan bisa diselamatkan,” ucapnya. (eh)

Pasien perlu mendapatkan perawatan beberapa jam pertama setelah serangan stroke terjadi.

Peneliti dari University of Cincinnati mengungkapkan statistik yang cukup mengkhawatirkan. Menurut data yang dikumpulkan, hampir 15 persen serangan stroke terjadi saat penderita sedang tertidur. Akibatnya, risiko mengalami kerusakan otak semakin besar karena pasien tidak bisa mendapatkan perawatan yang tepat dalam waktu cepat.

Seperti diketahui, dokter biasanya memberikan perawatan yang disebut sebagai tissue palsminogen activator, atau tPA bagi pasien penderita stroke, pada beberapa jam pertama setelah serangan. Akan tetapi, jika perawatan dilakukan lebih lambat, maka potensi terjadinya berbagai komplikasi pada pasien semakin besar.

Peneliti melakukan pengamatan terhadap lebih dari 1.850 pasien berusia 18 tahun ke atas di kawasan Cincinnati dan Northern Kentucky, Amerika Serikat. Dari pengamatan, terungkap bahwa 273 pasien mengalami stroke saat mereka tertidur.

“Meski sangat sulit untuk mengetahui secara persis kapan serangan stroke terjadi, memanggil tenaga medis untuk pertolongan darurat sangatlah penting,” kata Ausim Azizi, peneliti dari Temple University School of Medicine, seperti dikutip dari MedIndia, 14 Mei 2011.

Apapun yang terjadi, hal yang paling baik untuk dilakukan adalah pergi ke rumah sakit. “Saat ini ada teknologi pencitraan yang bisa digunakan untuk menunjukkan apakah ada jaringan otak yang tidak mati total dan bisa diselamatkan,” ucapnya. (eh)

[ Read More.. ]

Virus Ebola Kembali Muncul

Petugas kesehatan membuat sebuah unit isolasi untuk mengantisipasi adanya pasien baru.

Dari penelitian awal yang dilakukan terhadap seorang remaja puteri berusia 12 tahun yang meninggal dunia, diindikasikan bahwa penyebabnya adalah virus Ebola yang sangat mematikan.

Menurut petugas kesehatan, seperti dikutip dari Physorg, 16 Mei 2011, korban berasal dari sebuah kota yang berada dalam jarak sekitar 35 kilometer arah utara Kampala, kota terbesar dan ibukota dari Uganda.

Pada uji coba awal yang dilakukan oleh peneliti dari Uganda Virus Research Institute menunjukkan bahwa gadis yang meninggal dunia pada 6 Mei lalu di rumah sakit Bombo, distrik Luweero, Central Region itu memang diakibatkan oleh Ebola.

“Ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal beberapa jam kemudian,” kata Miriam Nanyunja, dokter yang menjabat sebagai Disease Prevention and Control Officer untuk World Health Organization di Uganda. “Dari gejala yang terlihat, ia kemudian dites untuk Ebola dan hasil yang memastikan itu sudah keluar,” ucapnya.

Nanyunja menyebutkan, petugas kesehatan saat ini tengah mencari kasus lain di kawasan itu dan akan membuat sebuah unit isolasi di rumah sakit Bombo untuk mengantisipasi adanya pasien baru yang terserang Ebola.

Nathan Mugisha, Director General of Health Services Uganda mengonfirmasikan hasil penelitian awal terhadap Ebola tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa gugus tugas segera dibentuk dan berupaya untuk mengatasi potensi mewabahnya Ebola. “Saat ini baru hasil tes awal yang kami dapat namun pembahasan sudah dilangsungkan,” ucapnya.

Seperti diketahui, penyakit perdarahan langka yang namanya diambil dari nama sebuah sungai kecil di kawasan Republik Demokrasi Kongo itu telah membunuh 37 orang di barat Uganda pada tahun 2007 lalu dan setidaknya 170 orang di kawasan utara negeri itu pada tahun 2000.

Ebola sendiri menular ke manusia lewat penanganan yang kurang tepat terhadap hewan yang mati akibat virus itu. Saat memusnahkan sekitar 88 persen populasi simpanse pada tahun 2003, diketahui bahwa konsumsi daging simpanse oleh manusia cukup signifikan.

Petugas kesehatan membuat sebuah unit isolasi untuk mengantisipasi adanya pasien baru.

Dari penelitian awal yang dilakukan terhadap seorang remaja puteri berusia 12 tahun yang meninggal dunia, diindikasikan bahwa penyebabnya adalah virus Ebola yang sangat mematikan.

Menurut petugas kesehatan, seperti dikutip dari Physorg, 16 Mei 2011, korban berasal dari sebuah kota yang berada dalam jarak sekitar 35 kilometer arah utara Kampala, kota terbesar dan ibukota dari Uganda.

Pada uji coba awal yang dilakukan oleh peneliti dari Uganda Virus Research Institute menunjukkan bahwa gadis yang meninggal dunia pada 6 Mei lalu di rumah sakit Bombo, distrik Luweero, Central Region itu memang diakibatkan oleh Ebola.

“Ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal beberapa jam kemudian,” kata Miriam Nanyunja, dokter yang menjabat sebagai Disease Prevention and Control Officer untuk World Health Organization di Uganda. “Dari gejala yang terlihat, ia kemudian dites untuk Ebola dan hasil yang memastikan itu sudah keluar,” ucapnya.

Nanyunja menyebutkan, petugas kesehatan saat ini tengah mencari kasus lain di kawasan itu dan akan membuat sebuah unit isolasi di rumah sakit Bombo untuk mengantisipasi adanya pasien baru yang terserang Ebola.

Nathan Mugisha, Director General of Health Services Uganda mengonfirmasikan hasil penelitian awal terhadap Ebola tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa gugus tugas segera dibentuk dan berupaya untuk mengatasi potensi mewabahnya Ebola. “Saat ini baru hasil tes awal yang kami dapat namun pembahasan sudah dilangsungkan,” ucapnya.

Seperti diketahui, penyakit perdarahan langka yang namanya diambil dari nama sebuah sungai kecil di kawasan Republik Demokrasi Kongo itu telah membunuh 37 orang di barat Uganda pada tahun 2007 lalu dan setidaknya 170 orang di kawasan utara negeri itu pada tahun 2000.

Ebola sendiri menular ke manusia lewat penanganan yang kurang tepat terhadap hewan yang mati akibat virus itu. Saat memusnahkan sekitar 88 persen populasi simpanse pada tahun 2003, diketahui bahwa konsumsi daging simpanse oleh manusia cukup signifikan.

[ Read More.. ]

Bakteri Pembunuh Parasit Malaria Ditemukan

Bakteri itu justru ditemukan dalam tubuh nyamuk Anopheles, sang penyebar wabah malaria.

Peneliti dari the John Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan bakteri pembunuh parasit penyebab malaria pada manusia. Para penelili menemukan bakteri itu justru dalam tubuh nyamuk Anopheles, sang penyebar malaria.

Bakteri pembunuh parasit malaria itu adalah jenis enterobacter. Bakteri ini secara alami berada dalam usus nyamuk. Enterobacter ini membunuh parasit dengan memproduksi jenis oksigen reaksi.

"Kami telah menunjukkan bahwa bakteri dalam usus nyamuk dapat mengaktifkan sistem kekebalan dalam tubuh nyamuk dan dengan demikian secara tidak langsung membatasi perkembangan parasit malaria," kata penulis senior peneliti, George Dimopoulos seperti dilansir laman medindia.net.

"Dalam penelitian ini kami menunjukkan bahwa bakteri tertentu secara langsung dapat menghambat perkembangan parasit malaria melalui produksi radikal bebas yang merusak plasmodium dalam usus nyamuk."

"Kami sangat tertarik dengan penemuan ini, sebab ini mungkin bisa menjelaskan mengapa nyamuk jenis yang sama dan keturunannya kadang-kadang berbeda daya tahannya terhadap parasit, dan kami mungkin juga menggunakan ini untuk mengembangkan metode untuk menghentikan penyebaran malaria," kata Dimopoulos.

Untuk penelitian, peneliti mengisolasi bakteri enterobacter dari usus nyamuk Anopheles yang dikumpulkan di dekat the John Hopskin Malaria Researcher Institute di Macha, yang terletak di dekat Zambia. Sekitar 25 persen nyamuk yang dikumpulkan mengandung bakteri yang khusus.

Studi laboratorium menunjukkan bakteri membatasi pertumbuhan Plasmodium lebih dari 99 persen, baik dalam usus nyamuk maupun dalam tabung percobaan yang biasa digunakan untuk menguji parasit malaria pada manusia. (eh)

Bakteri itu justru ditemukan dalam tubuh nyamuk Anopheles, sang penyebar wabah malaria.

Peneliti dari the John Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan bakteri pembunuh parasit penyebab malaria pada manusia. Para penelili menemukan bakteri itu justru dalam tubuh nyamuk Anopheles, sang penyebar malaria.

Bakteri pembunuh parasit malaria itu adalah jenis enterobacter. Bakteri ini secara alami berada dalam usus nyamuk. Enterobacter ini membunuh parasit dengan memproduksi jenis oksigen reaksi.

"Kami telah menunjukkan bahwa bakteri dalam usus nyamuk dapat mengaktifkan sistem kekebalan dalam tubuh nyamuk dan dengan demikian secara tidak langsung membatasi perkembangan parasit malaria," kata penulis senior peneliti, George Dimopoulos seperti dilansir laman medindia.net.

"Dalam penelitian ini kami menunjukkan bahwa bakteri tertentu secara langsung dapat menghambat perkembangan parasit malaria melalui produksi radikal bebas yang merusak plasmodium dalam usus nyamuk."

"Kami sangat tertarik dengan penemuan ini, sebab ini mungkin bisa menjelaskan mengapa nyamuk jenis yang sama dan keturunannya kadang-kadang berbeda daya tahannya terhadap parasit, dan kami mungkin juga menggunakan ini untuk mengembangkan metode untuk menghentikan penyebaran malaria," kata Dimopoulos.

Untuk penelitian, peneliti mengisolasi bakteri enterobacter dari usus nyamuk Anopheles yang dikumpulkan di dekat the John Hopskin Malaria Researcher Institute di Macha, yang terletak di dekat Zambia. Sekitar 25 persen nyamuk yang dikumpulkan mengandung bakteri yang khusus.

Studi laboratorium menunjukkan bakteri membatasi pertumbuhan Plasmodium lebih dari 99 persen, baik dalam usus nyamuk maupun dalam tabung percobaan yang biasa digunakan untuk menguji parasit malaria pada manusia. (eh)

[ Read More.. ]

playlist

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

FB comments